Showing posts with label xxxHolic. Show all posts
Showing posts with label xxxHolic. Show all posts

Encounter

A/N : Warning : OOC dan Abal. Don’t like it, don’t read it


------------------------------------------------------------------


* Encounter *

“ Kau percaya? Dengan takdir?”Gadis itu menatapku sambil duduk, ia menantikan jawaban yang mungkin dapat memuaskannya.

Aku tak tahu siapa dia…

“ Takdir?...” Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas.. Tapi dari cara bicaranya, dapat kusimpulkan bahwa ia gadis yang sangat baik.

“ Takdir adalah sesuatu yang telah ditentukan oleh dirimu sendiri setidaknya itulah yang dikatakan oleh ayahku…” Omong kosong… Aku telah berusaha untuk mengubah takdirku.. Tapi semuanya tetap sama, tidak ada yang berubah…

“ Mengubah takdir itu sangat berat… Bahkan aku juga telah berusaha sekuat tenaga…” Kalau begitu hentikan saja…

“ Tapi aku ingin mengubah masa depan.” Jawabnya mantap. Aku termenung oleh pikiranku sendiri. Berusaha mencerna perkataannya. Perkataanya yang berisi

Kesedihan….

Harapan…

Lalu yang terakhir..

Cinta…

Semuanya tercampur kedalam tekadnya itu. Hal yang membuatnya kuat untuk waktu yang lama.

Pedih yang ia tanggung adalah sesuatu yang membuatnya bertahan selama ini. Bertahan untuk hidup demi masa depan yang ia inginkan.

“ Namamu?” Tanyanya… Suaranya sedikit parau.. Seperti habis menangis.

“ Iroha Sumeragi…Nama yang aneh ya?…” Kataku. Aku tidak tahu dimana aku berada…Tapi.. Apa harus kukatakan sebuah ‘tempat’ kalau semua yang kulihat hanya kegelapan?

“ Tidak juga…” Aku sedikit terbelalak oleh jawabannya itu. Biasanya seseorang akan tertawa mendengar namaku.. Berbeda dengan dia yang menanggapinya dengan serius..

“Ngomong-ngomong aku Sakura… Salam kenal ya..” Walaupun samar-samar aku dapat melihat dengan jelas kesedihan dimatanya itu.. Mata Giok yang telah tumpul karena dihantam berkali-kali oleh keadaan disekitarnya.

“Ngg.. Sakura-san.. Ini dimana?” Aku berusaha melihat sekelilingku… Ternyata percuma saja.

“ Ini mimpi?..” Mimpi? Aku tidak ingat bahwa aku sedang tidur..

“ Mimpi saling berhubungan. Seperti mimpiku dan mimpimu…. Katanya melamun-pun kita bisa masuk dunia mimpi..” Pantas… Eh?…. Kenapa ia bisa mengetahui apa yang selama ini kupikirkan?

“ Kamu gampang ditebak sih..” Sakura berusaha menahan tawa saat melihat mukaku yang hampir menyamai tomat. Syukurlah.. Setidaknya ia masih bisa tertawa.

“Sudah keturunan ayahku ..” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, sedikit-sangat- merasa malu kepada Sakura.

“ Sifatmu mirip dengan seseorang yang kukenal…” Sakura mengepalkan tangan. Ia menutup matanya dan berusaha menahan tangis.

“ Seseorang yang paling berharga bagiku.. Suatu hari.. ‘Terjadi sesuatu yang menyedihkan’..” Ia melanjutkan ceritanya.

“ Namanya Syaoran. Ia selalu melindungi tiap saat… Berada di sisiku ketika aku membutuhkan… Dan juga cinta pertama dan terakhirku..” Sakura menghela napas.

“ Saat ‘kejadian’ itu terjadi.. Syaoran kehilangan hatinya… Ia.. melukai Fai, salah satu dari orang yang kusayangi.. Dan semua itu salahku..” Sakura tidak mengeluh, ia tidak terisak… Hanya air mata yang mengucur deras sebagai bukti penyesalannya.

“ Bukan salah Sakura kok… Meski aku belum sepenuhnya mengenalmu tapi aku yakin Sakura orang yang baik…” Aku meyakinkannya. Suatu hal yang hanya kulakukan pada orang tertentu saja.

“ Terima kasih…” Ia tersenyum.

“ I..Iya…” Tiba-tiba aku merasa sangat panik mengingat satu hal penting yang aku lupakan.

Ada apa? Kau sakit?” Ia khawatir. Tuhan, aku tidak mau membuatnya khawatir..

“ Aku harus keluar dari sini! Hari ini aku ujian masuk SMP! Aku harus bagaimana?!”

Sakura hanya tertawa mendengar jawabanku, sedangkan aku…. Jangan ditanya..

“ Aku tahu caranya…” Ia tetap tersenyum.

“ Apa?! ” Bingung, panik bercampur menjadi satu tepatnya seluruhnya menguasaiku.

“ Selamat tinggal ya.. Aku akan selalu mengingatmu..” Setelah kata-kata terakhir itu, Sakura mencubitku dengan keras, maksudku SANGAT KERAS.

“ SAKIT!!” Begitu tersadar aku sudah tiba di depan rumahku. Matahari bersinar terang, Bunga Sakura yang berguguran, .. Untunglah aku sudah tersadar..

Seragamku juga sudah lengkap.. Tunggu dulu…

Eh, matahari bersinar terang?

Aku telat!!!

Aku berlari kencang menuju sekolahku, Clamp Academy yang letaknya lumayan dekat dari rumahku.

“ Iroha! Tasmu ketinggalan!” Ayahku meneriakan namaku dan jelas itu percuma, mengingat berapa puluh meter aku di depannya.

“ Anak itu… IROHA!!!” Ayah mengejarku sekuat tenaga, sayangnya tenaga tua dan tenaga muda itu tidak seimbang… Maka dari itu tentu saja ayah tetap tertinggal di belakang.

Nenekku-tepatnya nenek buyutku yang entah kenapa dikaruniai umur panjang- melihat dari kaca jendela rumah kami. Ia tersenyum menyaksikan peristiwa itu seperti tidak pernah melihatnya dalam waktu yang sangat lama.

“ Subaru-sama dan Iroha-sama semangat sekali ya?” Kata Kagami, salah satu anggota keluargaku yang sedang mengantarkan teh dialasi nampan kepadanya.

“ Iya.. Sudah lama sekali aku melihat Subaru tersenyum…” Ia meminum tehnya dengan perasaan damai lalu meletakkannya di tempat semula.

“ Aku juga.. Pasti anda bahagia ya?” Kagami tersentak melihat nenek yang terdiam. Matanya tertutup rapat, ia tersenyum dan sebutir air mata mengucur melewati pipinya itu.

Kagami tersenyum.” Semoga anda bahagia…”

Sakura duduk termenung dan memandang sekelilingnya dengan perasaan kosong. Ia menangis.

“ Jangan bersedih ..” Suara itu terdengar lembut di telinga Sakura.

“ Siapa?...” Ia melihat seseorang yang mengulurkan tangan kepadanya.

“ Aku Kimihiro Watanuki.. Kita pernah bertemu di toko Yuuko saat kau masih tertidur, Sakura…”

A/N : Cerita ini di buat sebelum Sakura bertemu Watanuki di dunia mimpi ( Baca xxxHolic Chapternya.. Lupa dan TRC antara Chapter 170-173 kalau ga salah dan belum mastiin di TRC ada atau ga).

Hunter : Pleiades Egg.


A/N : OOC banget!!!! Pokoknya bikin bilingual ! Don’t like it then don’t read it! And totally never happens in real life!! O iya.. terdapat chara Clamp di fanfic ini. walau cuma sepintas dan disebut-sebut.

=========================================================================

“ Jas! Cepat!” Aku tak peduli jalan mana yang kulalui asal bisa keluar dari tempat itu.

“ Sabar ! Ini juga lagi lari!”Ok seperti biasa-walau dalam kondisi darurat- Jacinta masih bisa memarahiku.

“ Eh., telurnya bagaimana?!” waktu itu aku panik . Coba bayangkan sudah di ambil susah-susah, kalo pecah tidak setara dengan semua pengorbanan yang dilakukan.

“ Telurnya baik-baik saja!! Harusnya kamu lebih khawatir dengan nyawa kita! Asal kamu tahu aku tidak mau mati muda! Setidaknya biarkan aku jadi komikus dulu!” Ya ampun Jas. Darurat begini masih bisa memikirkan cita-cita.

“ Maaf sih! Aku tahu aku orangnya rada lemot-tidak ketolongan- tapi jangan marahin aku sekarang!” Kalau di marahi karena hal sepele(?) tentu saja aku balik membentak kan?

“ Kalian berdua sama saja! Lamban tahu!” Seekor mahluk/alien-yang lebih suka Jacinta dan aku sebut- berbentuk anak anjing bersayap di punggungnya keluar dari tempat persembunyiannya, yakni tas serempang ku.

“ Fluffy! Bawa kita ke dimensi lain sekarang!”Kataku pasrah, yaiyalah orang di kejar ribuan satpam.

“ Tidak bisa...”

“ Kenapa?! Kau ini sama sekali tidak berguna !” Mangsa bentakan kedua Jacinta: Fluffy.

Jangan bentak aku! Lagian katanya Yuko, aku belum boleh berpindah dimensi dulu!” Balas Fluffy. Jawaban ini membuat kami bingung.

“ Kok tidak bisa?! Kita kan sudah mendapat telurnya!” Kataku makin panik lalu Jacinta mengeluarkan telur tersebut dari tasnya.

“ Sasha, telurnya! black hole!!” Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia bicarakan.

“ Hah?! Maksud mu apa?!”

“ Aduh!! Maksudku warna cangkang telurnya seperti Black hole!! Kalau masih tidak mengerti, black hole itu seperti tata surya!”

“ Ah yang benar?!”

“ Iya!!” Tiba-tiba telur itu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan, sensasi hangat yang membuatku rela termakan olehnya. Sensasi yang membuat kami lenyap seketika dari tempat itu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jacintas POV

Semuanya putih. Putih bersih, atau putih suci, aku tak dapat membedakannya .Yang aku tahu.... Aku terjebak di sebuah ruang hampa, melayang-layang tanpa tahu akan di tarik kemana oleh sensasi telur bodoh itu . Aku tak begitu peduli apa yang terjadi padaku, percayalah aku bukan orang yang gampang panikan seperti Sasha. Entah kenapa aku teringat saat kami masih bersekolah dulu. Umur kami tidak jauh berbeda, apalagi sebenarnya kami satu kelas. Waktu itu aku tidak pernah menyadari keberadaannya, jujur saja dia orangnya tidak begitu menonjol lagi pula orangnya juga suka blak-blakan sendiri. Di samping itu-bukannya aku mau merendahkan-ia itu kadang suka aneh-aneh sudah begitu cinta mati lagi sama cheese cake. Lengkaplah humor dalam hidupku. Aduh... kok jadi menghina sahabat sendiri sih? Ah semua gara-gara Fluffy . Si setan godaan, si mesin berpindah dimensi kami yang baru. Salahkan Sasha karena menghilangkan bandul api, alat pemindah dimensi yang lama di Cafe ‘The Cofee bean’ kemarin .Walau begitu semua yang ku jalani menyenangkan sekali..

Aku harap selamanya akan menyenangkan seperti ini... ya.... Selamanya....

Tidak seperti saat masih di rumah. Karena aku satu-satunya keturunan terakhir di klanku, semua tanggung jawab yang di tinggalkan oleh ayah jatuh kepadaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa...Memang aku punya seorang adik laki-laki, tapi kondisinya lemah dan tidak memungkinkan untuk menjadi ketua klan.. Ya ya ya klan Sumeragi , klan Onmyouji yang telah melayani kekaisaran selama berabad-abad.. masa bodoh . Aku tak peduli... Apa memang aku tak peduli?

Apa memang aku rela meninggalkan adikku menerima semua siksaan batin yang pernah ku alami? Uuuhh... Nanti sajalah memikirkannya...

Ini juga,Sasha kemana sih? Fluffy juga....

Telur Pleiadesnya... Pleiades.....

Pleiades itu ‘Subaru’....

Subaru itu... Ayah....

Sial.......

Ayah... Tega sekali kau mati saat itu... Eh... Tunggu dulu... Apa benar ayah mati?

Seumur hidupku belum pernah aku melihat kuburan ayah... nenek buyut juga tidak pernah mengizinkanku melihatnya...

Jangan-jangan.. Masih hidup?!... Tidak mungkin... Tapi... Tapi...

Kalau benar masih hidup... Orang itu... Orang itu!!!! GRRR!!!

Sumeragi Subaru, akan kubunuh kau karena meninggalkanku!!!!!!

Sashas POV

Lapar... Ukh... Aku butuh Cheese Cake... Aduh bagaimana ini.. Terombang- ambing di ruang hampa seperti ini... Mungkin karena dosaku banyak... Ahh.. Hari begini memikirkan dosa, telat.. Lagi pula, perasaanku aneh.. Ada yang salah... tapi... Walaupun salah entah kenapa enak sekali di sini.. Rasanya nyaman... Mengingatkanku pada ayah.... Ayah.... Kau kemana? Sadar tidak, kalau membuat anak khawatir?.. Setelah di pikir-pikir.... Kau itu kan tidak tahu kata ‘khawatir’.... Kau juga tipe yang suka senyum sendiri dalam situasi apapun... Yang-maaf saja- membuatku mual... Mual dan emosi... Sekarang aku tahu perasaan paman Kamui... Ayah... Kau itu.. sungguh amat sangat bokep... Terlalu bokep sampai membuatku... Aduh... Jadi sakit perut....O iya Di sini ada toilet tidak? Mules nih..

Fluffys POV

Yuko... Kenapa kau memberiku kepada anak-anak konyol ini... Kalau kau tidak suka padaku bilang saja... Aku kan tidak emosi-an... Eh... memang Emosi-an.... Dulu waktu masih berada di toko, aku nyaris membunuh Larg karena mengahabiskan sake ku... Oh Tuhan... Sampai kapan aku akan terombang-ambing seperti ini...

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Hunters: Truth.

A/N: Ku rasa semuanya berjalan baik. Walau aku payah dalam membuat cerita setidaknya aku telah mencobanya dan ku pikir hasilnya lumayan bagus. Well, enjoy the story! Hope you like it! O Iya, Happy Birthday Jacinta! Panjang umur ya!

==================================================================
Masih di negeri yang sama, kami tetap berjalan ( Seperti orang melarat).

" Hei." Tanyaku.

"........." Tak ada jawaban.

"Jacinta.."

"........" Masih tak ada jawaban.

" Sumeragi!"

Akhirnya ia menjawab padaku." Apa?! Harusnya kau tidak usah memanggil ku seperti itu! Dari tadi kan aku disebelah mu!"

Aku melihatnya dengan tatapan penuh tanya." Masa sih?"

Ia menghela napas." Sesekali gunakanlah otak mu agar tidak konslet."

" Aku rasa akan susah.." Kataku.

" Sungguh.... Meladeni mu itu sama saja dengan mengurus adikku."

" Adikmu ya? Bagaimana dengan kabarnya?" Tanyaku.

" Aku tak tahu... Terakhir kali aku melihatnya saat aku kabur dari rumah." Ia terlihat kaget dan secepat mungkin menutup mulutnya.

Aku memandangnya. Ada sedikit penyesalan di hatinya." Kau kabur? Bagaimana ceritanya?"

Ia membalas pandanganku dan berharap agar aku dapat mengganti topik pembicaraan. Tapi ia tahu bahwa aku bukan orang yang dengan gampang melepas rasa penasaran.

" Begini....." Ia melanjutkan kata-katanya.

"Sebelum berpindah dimensi kau hanya tahu aku sebagai teman sekelasmu kan?"

Aku mengangguk.

" Berarti aku harus menceritakannya dari awal. " Ucapnya dengan jujur.

"Well, to the point sajalah..." Kataku tak mau repot.

" Sabar! Ini juga sedang mengingat flashback!" Bentaknya.

" Iya... " Kataku mengalah. Aku mendengarkannya berbicara dan berusaha untuk mencerna ceritanya di dalam otak konslet ku.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

" Berhentilah memaksaku! " Teriak ku seraya berusaha menyingkir di jalan yang gelap itu.

" Tapi kau harus melakukannya!" Seorang wanita tua dihadapanku terus memaksa ku.

" Aku tidak ingin Obaa-san..." Akhirnya aku jatuh tersungkur di hadapan nenekku.

" Aku tahu.. Tapi sebagai pemimpin keluarga onmyouji Sumeragi ke 14, kau harus menggantikan ayahmu yang telah meninggal."

Aku melihat nenekku dengan pandangan benci." Aku yakin ayah juga tidak ingin aku hidup seperti ini..."

" Lebih baik kau diam dan lanjutkan latihanmu.." Katanya sambil membalas pandanganku dengan serius.

Aku memulai pemberontakan ku " Obaa-san pikir aku takut dengan Obaa-san? Aku muak dengan semua ini! Selama hidupku aku terikat dengan semua peraturan yang kau berikan! Aku berusaha untuk tidak mengeluh tapi kau terus-terusan menyiksa ku dengan semua ini!!!" aku berusaha menjelaskan perasaanku tapi tidak berhasil.

" Kau harus melihat posisimu nak... Sebagai pemimpin klan Su.." Aku memotong pembicaraan nenekku.

" Klan Sumeragi! Klan Sumeragi! Apa hanya itu yang terpikirkan di benak Obaa-san?! Tak heran ayah juga membenci sikap mu!"

Nenekku terdiam dan kemudian mengeluarkan kata-kata yang sangat amat membuatku terluka.
" Diam kau! Kalau tidak karena iblis seperti kalian, klan Sumeragi tidak akan kehilangan pemimpin terkuat seperti Subaru-san!"

Aku kaget. Kata- katanya sangat menyakitkan. Kenapa dia berbicara seperti itu kepadaku? Kenapa ia juga memasukkan adik dan ibuku kedalam kata-katanya dan menjejerkan mereka setara dengan iblis? Aku tak ingin tahu....

Obaa-san menghela napas." Lanjutkan saja latihanmu..." Ia berbalik dan meninggalkanku di jalan.

Hujan turun dengan deras setelah kepergiannya. Aku tertunduk. Hujan menjadi perwakilan atas segala kesedihanku dan saat itu aku bersumpah untuk melepas gelar pemimpin klan Sumeragi dari diriku...

Hingga aku menemukan toko yang bisa mengabulkan permintaan....

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

" Jadi kau tertekan atas semua peraturan itu?" Tanyaku.

Jacinta menjawab." Ya... Dan selama hidupku aku tidak bisa bebas dari itu semua. Aku merasa sangat menderita ......"

Aku terdiam." Nama ayahmu siapa?" Aku berusaha mencari topik lain agar Jacinta tidak kembali bersedih.

Ia menjawab lagi. " Subaru Sumeragi."

Aku hanya bisa memandanginya." Begitu ya.....Jadi Kau tahu toko Yuko dari siapa?"

Ia balik memandangku." Pertanyaan bagus.... Aku tahu dari ayahku sebelum dia meninggal. Tapi ia tidak memberi deskripsi toko itu sehingga aku tidak dapat menemukannya....." Ia memandang langit." Aku baru menemukannya ketika aku bersekolah di Tokyo."

Sebelum aku bisa mengomentari perkataannya dia bertanya." Kalau Sasha? Kenapa kau ingin pindah dimensi?"

Aku terdiam ." Aku ingin menemukan ayahku..."

Jacinta menatapku." Ayahmu? Bukankah ayahmu itu arkeolog? Apa hubungannya dengan dimensi lain?"

Aku menjawab." Tidak, itu bohong... Sebenarnya dia masih satu profesi dengan kita..."

Jacinta bingung." Maksudmu dia Hunter juga?"

" Ya.. dan Ia juga berpindah dimensi. Jelas saja aku tahu toko Yuko." Tambahku.

" Lalu kenapa kau harus mencarinya?" Tanyanya.

" Ayah selalu pulang setahun sekali. Dan pastinya saat ulang tahunku karena itu imbalan yang diberikan ke Yuko, Tapi sudah 3 tahun ia tidak pulang... Aku khawatir mengingat dia satu-satunya keluargaku.."

" Kau tidak punya ibu?" Tanya Jacinta dengan hati-hati.

" Tidak, ibuku meninggal saat aku dilahirkan. Lalu setelah ayahku menghilang aku diasuh oleh keluarga Shirou. Entah kenapa aku tidak di perbolehkan mengganti nama keluargaku oleh pamanku yang bernama Kamui..." Jelasku panjang lebar.

" Jangan sampai kau bernasib sama sepertiku....." Kata Jacinta padaku.

" Aku harap...."

" Nama ayahmu siapa? Aku penasaran." Katanya . Dia tidak lihat aku kecapekan menjawab apa?

" Fuuma Monou."

Ia terbelalak kaget. " Kok namanya mirip kucing gitu?!"

Aku mengerutkan kening. " Enak aja ngehina bapak orang!" Biar sekalian puas, ku jitak saja kepalanya.

" Heh, Maksudku kan baik! Siapa tahu ayahmu kalau jadi kucing lucunya setengah mati. Atau jangan-jangan nakutin?" Candanya.

" Yang ada ayahku cakep tahu!" Kataku membela nama baik ayahku.

" Iya, iya maaf... Memang umurnya berapa?" Katanya sambil menahan tawa.

Aku agak ragu juga mengatakannya tapi akhirnya kukatakn juga." Umurnya 25 tahun..."

" Hah?! Muda amat! Ayahku saja waktu meninggal umurnya 45!" Jeritnya seperti kesetanan.

" Nasib!" Ucapku senang.

" Kalau maksudmu nasib ayahku meninggal, ku potong tanganmu terus kumasukin ke mulutmu!" Ancamnya dengan cara yang-untuk pertama kalinya- sangat mengerikan.

"Tidak bukan itu maksudku! " Aku menggeleng-geleng dan memilih diam.

" Ya sudah, lebih baik kita cari Telur 'Pleiades' di negeri maju ini.." Ujarnya. Aku mengangguk.

Kulihat sekitarku... Ada banyak orang disekitar kami. Anehnya mereka tidak heran melihat pakaian kami berbeda dari mereka. Ada Banyak juga kendaraan beterbangan dan bangunan yang memuncak tinggi. Walau begitu banyak tumbuhan hijau yang menjadikan negeri itu sangat indah. Nama negeri itu adalah Piffle.



Hunters: The beginning

A/N : Semuanya hanya rekayasa, cerita ini hanya tentang kisah petualang para author dari Jacinta's World yang ingin bertemu tokoh Clamp. Biasalah... Author juga ingin tampil memukau. By the way ini adalah sebuah request dari semua author. Jadi jangan salahkan saya kalau anda tidak suka.

====================================================================
Kami berdua menyusuri jalan yang asing dan tidak kami ketahui... Mencari sesuatu yang kami sendiri tidak tahu apakah hal itu ada atau tidak. Tapi.. Apapun yang terjadi kami harus menemukannya...

" Sebaiknya kemana? " Tanyanya.

" Kemana sajalah, tak usah ambil repot.." Balasku dengan tatapan santai

" Ok, ok.. hanya saja ini aku belum terbiasa berpindah ke dimensi lain.." Katanya ragu-ragu.

" Jangan khawatir, Asal bukan negeri yang di landa peperangan, aku rasa tidak apa.." kataku.

" Jadi apa misi pertama?"

Dengan tatapan heran ia menjawab " Mencari dandelion hitam.. dan itu sudah kita berikan... yang harusnya kau tanya adalah misi kedua.."

" Oh..." Aku berpikir sebentar dan tanpa mempedulikannya aku bertanya lagi.... " Harga yang harus di bayar ke 'dia'? "

" Tentu saja kepada penyihir itu..." Aku melihatnya dengan tatapan parau.

Benar saja, semuanya terjadi secara kebetulan. Bukan.... Penyihir itu menyebutnya Hitsuzen.
semua yang terjadi adalah takdir. Dan takdir itu adalah sesuatu yang telah diperkirakan. Bukan secara acak....

Aku melihat langit yang mendung.. Sedikit demi sedikit hujan mulai jatuh membasahi kami, temanku menarikku ke bangunan terdekat agar kami tidak basah.

" Kenapa kau melamun? Tidakkah kau lihat bahwa hujan akan turun? padahal jelas - jelas kau melihat ke langit.." Tanyanya seperti memang kesal pada tingkah ku.

" Sesuatu terlintas di benakku" Begitulah jawabku.

" Apa? kuharap itu bukan salah satu ide gilamu..."

" Sekali saja.. Percayalah bahwa aku tidak gila..."

" Tidak.. Aku telah lama mengenalmu, dan seratus persen akan kukatakan dengan lantang. Kau gila..."

" Baiklah kurus.. Kau menang, aku memang gila."

" Cukup dengan semuanya! Sekarang jelaskan apa yang ada di dalam benakmu itu!" Paksa nya. Dan aku yakin dia hanyalah manusia pintar yang penasaran.

Aku hanya tersenyum kecil. " Ingat hari itu? Hari pertama kali kita bertemu dengan Yuko sang penyihir? "

Ia membalas pandanganku. " Iya.. hari bersejarah.."

Aku meneruskan perkataan ku. " Kalau kita tidak membuat pilihan ini, mungkin kita masih menjadi pelajar di sekolah yang membosankan dan terus hidup dengan terbeban oleh rasa kebosanan itu sampai mati."

Ia melihatku dengan datar. " Sungguh.. perkataan mu sangat keren kecuali sampai ke bagian mati itu."

" Aku rasa. " Kami berdua tertawa sambil melihat langit. Tapi aku tahu bahwa kami memikirkan hal yang sama. Hari sebelum kami melakukan perjalan ini... Hari yang mengubah hidup kami.. untuk selamanya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

" Namamu?.. " Tanya sang penyihir itu kepadaku.

" Sasha... Sasha Monou.." Jawabku.

" Jarang-jarang aku melihat seorang anak... Tidak, dua orang anak datang ke tokoku.." Gumamnya sambil tersenyum. Aku rasa memang tidak wajar dua orang anak kecil seperti kami datang ke toko itu.

" Tatapan mata yang bagus. Mata emas dan rambut pirang memang cocok untukmu. Kau memiliki jiwa ksatria" Aku sedikit luluh.. aku anggap itu sebagai pujian walau hanya basa- basi.

Ia memalingkan mukanya ke sahabatku. " Kalau kau?"

" Aku Jacinta Sumeragi.." Katanya sambil menelan ludah.

" Hmmm.. Kau cantik... mungkin sebagai bayaran aku dapat memiliki mata biru mu atau rambut coklat mu itu.." menurutku tatapan bercandanya sudah cukup untuk membuat Jacinta mati berdiri. Menurutku...

" Jadi ada apa gerangan kalian berkumpul di tokoku?" Tanya sang penyihir.

Jacinta menjawab. " Kami ingin pergi ke dimensi lain.."

Penyihir itu sedikit kaget, tapi perlahan tersenyum lagi. " Kalian yakin?"

" Ya.." Kataku lantang.

" Kalian terlalu kecil untuk membuang nyawa." Jawabnya, hanya saja kali ini dia memusatkan pandangannya ke arahku dengan tatapan serius.

" Kau pikir kami tidak tahu resikonya?" Kataku balik bertanya.

Ia tersenyum. " Kau pintar bicara ya? "

" Aku hanya bicara apa yang ingin ku bicarakan saja, tidak lebih." Jawabku santai.

Penyihir itu bertanya lagi" Kalian berdua saling kenal?"

Aku dan Jacinta berpandangan. " Ya"

" Apa alasannya kalian ingin berpindah dimensi? dimulai denganmu pirang" Ia menatapku.

Aku menunduk. "Ada seseorang yang ingin ku temui..."

" Dan orang itu ada di dimensi lain... Betul?" Lanjutnya. Aku terdiam sesaat kemudian mengangguk.

" Terus kalau si cantik?" Jacinta menatap penyihir itu dan aku rasa dia tidak suka nama panggilan yang di buatkan khusus oleh sang penyihir.

" Aku ingin pergi ke suatu tempat dimana aku tidak akan menderita lagi..." Aku melihat Jacinta dengan pandangan datar. Begitu pula dengan si penyihir.

" Baiklah, kalian dapat memanggilku Yuko..." Lanjut 'Yuko'.

" Aku akan mengabulkan permintaan kalian." Lagi-lagi ia menatap kami dengan tatapan serius.

" Tapi dengan bayaran yang setimpal."

" Kami tahu" Jawab kami.

" Mulai sekarang di tiap dimensi yang akan kalian kunjungi, aku akan meminta kalian untuk mencari 'sesuatu'. "

" Sesuatu? " Tanya kami.

" Ya. Sesuatu yang setimpal di tiap satu dimensi." Jawab Yuko.

Kami mengangguk. Tiba- tiba muncul lingkaran aneh di tempat kami berdiri.

" Itu adalah lingkaran sihir. Tiap kalian akan berpindah dimensi lingkaran itu akan muncul. Itu adalah tanda bahwa kalian mengikat perjanjian dengan ku."

Berlahan-lahan wajah Yuko menjadi samar.

" Tiap orang yang kalian temui di dimensi sebelumnya akan mengalami hidup yang berbeda di dimensi selanjutnya. Sisanya aku rasa kalian sudah tahu terutama kau pirang!" Katanya disertai candaan.

Aku tidak dapat mendengar suaranya lagi dan semuanya menjadi hampa....

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


" Sasha! " Aku mendengar teriakan.

" Sasha!" Aku mendengarnya lagi.

" Sasha kiamat!!!!!" Kali ini teriakannya cukup kencang hingga dapat membuat ku tersadar.

" Hah, yang benar?!" Balas ku berteriak sambil menengok kanan kiri.

" Tidaklah! Kamu bisa-bisanya tidur dengan keadaan berdiri begitu. Mana kamu senderan di pundakku lagi! Lihat ini! Air liur mu!" Bentak Jacinta kesal.

" Syukurlah" Kata ku lega.

" Syukur apa?! " Bentaknya lagi.

" Apa peduliku kurus?" Ejek ku, sesaat ku lihat langit sudah cerah.

" Sudah cerah ya? dari kapan?" Tanya ku.

" Ya, setengah jam yang lalu... " Jawab Jacinta sedikit jengkel.

" Baiklah.." Kata ku sambil menguap lebar. " Ayo selesaikan misi ke dua!"

Ia tersenyum." Ya, ya, ya...." Jawabnya seperti biasa.

Apa hari ini akan menjadi lebih baik?




To Be Continued.............







CLAMP Mangas Part 1


This is the first video I uploaded in this blog. Well, the part 2 is coming soon. The mangas in this video : Angelic Layer Cardcaptor Sakura Kobato. Tokyo Babylon Tsubasa Reservoir Chronicle X/1999 XxxHolic And also, the last picture which become the credit, I also uploaded with this video. See below :

CLAMP Awards

If you all (the followers) love CLAMP, I made a poll titled CLAMP Awards! Why I named it CLAMP Awards? Because you can poll many nominators in many category. There are 6 categories :
1. Best CLAMP Hero
2. Best CLAMP Heroine
3. Best CLAMP Couple
4. Best CLAMP Story
5. Best CLAMP Member
6. Best CLAMP Wannabe
Well, I will explain the nominators :
BEST CLAMP HERO
1. Syaoran from Tsubasa Reservoir Chronicle
2. Kamui Shiro from X/1999
3. Subaru Sumeragi from Tokyo Babylon
4. Nokoru Imonoyama from CLAMP School Detectives
5. Suoh Takamura from CLAMP School Detectives
6. Akira Ijuin from CLAMP School Detecctives
7. Watanuki Kimihiro from xxxHolic
8. Syaoran Li from Cardcaptor Sakura
BEST CLAMP HEROINE
1. Sakura Kinomoto from Cardcaptor Sakura
2. Princess Sakura from Tsubasa Reservoir Chronicle
3. Kobato Hanato from Kobato
4. Hikaru Shidou from Magic Knight Rayearth
5. Umi Ryuuzaki from Magic Knight Rayearth
6. Fuu Hououji from Magic Knight Rayearth
7. Chii from Chobits
8. Misaki Suzuhara from Angelic Layer
BEST CLAMP COUPLE
1. Sakura and Syaoran from Cardcaptor Sakura
2. Princess Sakura and Syaoran from Tsubasa Reservoir Chronicle
3. Subaru and Seishiro from Tokyo Babylon
4. Kamui and Kotori from X/1999
5. Fai and Kurogane from Tsubasa Reservoir Chronicle
6. Chii and Hideki from Chobits
7. Touya and Yukito from Cardcaptor Sakura
BEST CLAMP STORY
1. Tsubasa Reservoir Chronicle
2. Cardcaptor Sakura
3. X/1999
4. Tokyo Babylon
5. Chobits
6. Kobato
7. Magic Knight Rayearth
8. CLAMP School Detectives
9. RG Veda
BEST CLAMP MEMBER
1. Nanase Ohkawa
2. Satsuki Igarashi
3. Mokona
4. Tsubaki Nekoi
BEST CLAMP WANNABE
1. Syaoran from Tsubasa Reservoir Chronicle
2. Sakura Kinomoto from Cardcaptor Sakura
3. Kobato from Kobato
4. Chii from Chobits
5. Kamui Shiro from X/1999
6. Subaru Sumeragi from Tokyo Babylon
Rules :
1. You can choose 2 nominators for each category, but you can too choose 1 only.
2. This awards applies LUBER JURDIL system
3. No spoiler and cheating!

Please send yours in the comments. WARNING! Only for followers!